Sistem Informasi Manajemen Sirkulasi Buku

Klasifikasi Buku, Peminjaman, Pengembalian dan Inventariasi lebih Efektif Dan Efisien

Cari Aku, Temukan Aku Dan Baca Aku

Buku adalah sahabat dikala sendiri, Buku adalah awal lembaran prestasi

Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2016

Tirani Dan Benteng

Tirani dan Benteng merupakan kumpulan puisi Taufik Ismail yang mampu memotret jalinan sejarah secara gamblang dan tanpa tendeng aling-aling. Kumpulan puisi ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama, Puisi-Puisi Menjelang Tirani dan Benteng, bagian kedua,Tirani, dan bagian ketiga, Benteng.
Bagian pertama, Puisi-Puisi Menjelang Tirani dan Benteng
Puisi-Puisi Menjelang Tirani dan Benteng ditulis antara tahun 1960 – 1965. Ada 32 judul puisi yang melukiskan gejolak Indonesia menjelang peralihan orde lama menuju orde baru.
Bagian kedua, Tirani
Tiran. Tirani. Hanura. Tiga kata yang tak asing bagi kita. Tapi adakah di antara kita yang berusaha memahami dan memaknai tiga kata tersebut? Bangsa kita pernah mengalaminya, menjalaninya, bahkan mengulangnya dalam dekade yang berbeda.
Bagian ketiga, Benteng

Dalam berperang, pasukan memerlukan benteng sebagai tempat bertahan. Tempat untuk beristirahat sejenak dan menyusun strategi baru. Namun tidak demikian dengan benteng yang satu ini.
Share:

HIKAYAT HANG TUAH II

Hang Tuah adalah seorang anak miskin. Bapaknya bernama Hang Mahmud dan ibunya Dang Merdu Wati. Mereka tinggal di sebuah gubug di pinggiran Sungai Duyung. Berawal dari terdengarnya kabar bahwa raja di kerajaan Bintan adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Bintan pun menjadi negeri yang masyhur. Seperti halnya negeri masyhur, Bintan menjadi tujuan banyak orang, tidak terkecuali Hang Mahmud, Dang Merdu Wati, dan Hang Tuah. Mereka pindah ke Bintan untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Pada suatu malam, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Kemudian Hang Mahmud terbangun dan mengangkat Hang Tuah, yang saat itu masih berusia 12 tahun, lalu diciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau sangat harum. Hang Mahmud menceritakan mimpi itu kepada istrinya lalu meminta pemuka agama untuk mendoakan Hang Tuah.
Share:

Senin, 05 September 2016

GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER


Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa tengah, Kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup manis untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada(asministrasi) Belanda.Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.

Mulanya, perkawinan itu memberi prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya, menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah Orang Jawa telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.


Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.

”Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini … Ah tidak, aku tak suka priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.”

---Pramoedya Ananta Toer
Share:

DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH Karya Hamka

                 … Maksud yang engkau terangkan itu, amat saya setujui, itulah  suatu maksud yang baik, sebab itu adalah suatu hikayat dan kejadian yang mendugakan hati dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemuda kita.

            Saya setuju maksud Sahabat itu, pertama adalah karangan yang engkau maksudkan itu, akan ganti bingkisan kita kepada orang-orang yang menjadi korban itu, antaranya kepada arwah mereka yang suci; kedua ialah untuk menjadi cermin perbandingan kepada orang-orang yang hidup di belakang mereka.

            Bukan sedikit pemuda-pemuda yang telah menanggung sebagai yang telah ditanggung oleh kedua orang itu, tetapi sukar orang yang selamat sampai ke akhirnya. Padahal adalah “rindu dendam” atau “cinta-berahi” itu laksana lautan jua, orang yang tiada berhati-hati mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang, hilang di tengah-tengah samudera yang luas itu, tiada akan tercapai selama-lamanya.

            …Demi bila buku ini telah selesai, kirimkanlah kepadaku barang senaskah, guna menghidangkan kenang-kenanganku kepada masa yang telah lampau, semasa kita masih bernaung DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH.
Share:

Novel PERGOLAKAN Karya Wildan Yatim

Novel Pergolakan Karya Wildan Yatim

Pembaruan tidaklah selamanya mendapat tanggapan positif dari kalangan kolot. Oleh karena itu, kaum pembaru harus siap menghadapi berbagai rintangan dan konflik.

Tema inilah yang disodorkan Wildan Yatim kepada kita dalam novel Pergolakan yang memenangkan Hadiah Sayembara Mengarang Roman Panitia Tahun Buku Internasional DKI 1972 dan Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI 1975 ini. Di dalamnya kita menemukaan konflik Guru Salam (kaum pembaru) dan Haji Saleh (kaum kolot) mengenai agama, dan konflik Guru Salam (golongan agama) dan Nurdin (golongan kiri) mngenai politik.


Konflik Guru Salam dan Haji Saleh, serta Konflik Salam dan Nurdin, dijalin pengarang menjadi kisah yang menegangkan dan menarik. Kisah itu diseling-seling pula dengan deskripsi flora dan fauna sehingga kita asyik mengikutinya.
Share:

NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA


Novel padang bulan bermula dari kisah seorang gadis kecil berusia 14 tahun, Enong namanya, yang sangat gemar pada pelajaran bahasa Inggris, namun secara mendadak terpaksa harus berhenti sekolah dan mengambil alih seluruh tanggung jawab keluarganya. Tersambung pada sekuel novel ini adalah Cinta di Dalam Gelas, yang menuturkan perjalanan nasib anak perempuan kecil itu. Melalui gaya khasnya: menertawakan kepedihan, memarodikan tragedi, mengkritik tanpa menjadi sarkastik, kisah Enong menjadi seperti panggung di dalam lembaran-lembaran kertas. Membaca novel ini seperti melihat sebuah gambar.

Dengan menceritakan kisah Enong seperti sebuah epos, Andrea berhasil memperlihatkan kepada pembaca kekuatan-kekuatan besar yang tersembunyi di dalam diri manusia, kekuatan yang sering tidak disadari seseorang berada di dalam dirinya. Enong jatuh, bangun, jatuh lagi, dan bangun lagi. Kisah Enong tidak sekedar kisah sebuah keluarga yang sederhana, namun tenteng impian seorang anak kecil, tentang keberanian menjalani hidup, dan tentang seorang lelaki yang menjadi berantakan karena tragedi cinta pertama.
Share:

INGAT WAKTU YA..

RUMAH BELAJAR

RUMAH BELAJAR
Belajar Dimana Saja

JATENG PINTAR

JATENG PINTAR
portal jawa tengah

Daftar Postingan

Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Penayangan

Recent Posts