Sistem Informasi Manajemen Sirkulasi Buku

Klasifikasi Buku, Peminjaman, Pengembalian dan Inventariasi lebih Efektif Dan Efisien

Cari Aku, Temukan Aku Dan Baca Aku

Buku adalah sahabat dikala sendiri, Buku adalah awal lembaran prestasi

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2016

1000 BANGAU KERTAS Karya S. Rejeki (XII IPS 3)

          “Haaaah… Aku ingin berteriak sekeras mungkin. Aku ingin mengadu tentang semua ini. Tetapi pada siapa aku dapat mencurahkan semuanya?”.Keluh Azkia gadis remaja yang sedang dilanda kesepian. Ia yang selalu merindukan sosok teman sejati yang benar-benar mengerti hidupnya.  “Haruskah aku mengadu pada matahari ataukah pada bulan yang selalu tampakkan cahayanya dari jendela kamarku?”
            Azkia merasa terasingkan didalam teman-temannya maupun didalam keluarganya. Tak ada satu pun yangb peduli dengannya terkecuali neneknya. Ibunya bekerja di negeri orang,karena urusan perusahaan yang mengharuskan beliau seperti itu. Sedangkan ayahnya,entah dimana keberadaannya. Sejak kecil ia hanya brerteman dengan nenek dan ibu. Itu pun tak seyiap hari ibu dapat menemani hara-hari Azkia.
           Mentari pagi menampakkan sinar hangatnya, seakan-akan meyapa Azkia dalam cerahnya pagi hari itu. Seperti biasa ,Azkia menjalani aktifitasnya sehari-hari yang sering dilakukan. Dengan langkah berat, ia menampakkan kaki untuk menuju sekolah. Ia dengan langkah yang lemas mulai menuju keruang kelasnya. Ia menyeretkan tas selempangnya dan menaruhnya dengan kasar diatas meja. Teman-teman disampingnya menoceh tidak jelas dan terdengar keras ditelinganya. “Buatlah 1000 banguu kertas, dan tulis disetiap bangau itu sebuah harapan yang selama ini kamu pendam. Karena dengan itu harapan kamu pada ke-1000 bangau kertas tersebut akan terwujud. Percayalah.”
           Dengan rasa heran dan kaget, spontan ia mengangkat kepala. “Ternyata tiadak ada satu orang pun di kelas ini. Mungkin ini hanya halusinasiku saja”. Ujar Azkia Nampak kebingungan. “Terkadang dunia memang kejam.” Azkia mendengarkan kembali suara yang tak jelas darimana asalnya.
           Bel sekolah bordering tiga kali tanda siswa untuk pulang. Azkia memutuskan untuk bergegas pulang kerumah , karena ia sudah tidak sabar ingin belajar membuat bangau kertas bersama nenek. Sesampai dirumah, ia melihat nenek sedang asyik merangkai bunga mawar yang akan pengharum serta hiasan ruangan. “Nenek , Kia pulang.” Sapa Azkia kepada nenek. “Nek bisa ajarkan sku membuat bangau kertas?”. Sambungnya. “Nenek tentu bisa membanyu kamu, kamu kan cucu kesayangan nenek. Memang untuk apa? Tumben-tumben sekali kamu  minta ajarkan nenek membuat bangau kertas “. Tanya nenek , setengah agak mengejek cucunya itu.
           “Nah, begitu caranya. Kamu sudah pahamkan dengan apa yang nenek ajarkan tadi?”.  Azkia mengangguk tanda mengerti. Sebagai tanda terima kasih,Azkia mencium kedua pipi neneknya diruang tamu dengan secangkir the hangat yang menemani nenek.
            Azkia mulai membuat bangau kertas dan menuliskan sebuah harapan pada setiap bangau kertas yang di buat itu. Di penuhinya tasnya dengan tumpukan kertas berwarna-warni untuk membuat bangau kertas. Yang katanya akan mengabulkan harapan apabila talah dibuat 1000 bangau kertas.
            Tiada hari tanpa membuat bangau kertas. Nenek hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala jika ia melihat aku sedang asyik membuat bangau kertas itu.
            Baginya, dunia ini sangat kejam. Karena dalam hidupnya, ia harus terpisah dengan orang-orang yang ia cintai dan sayangi. “Mungkin, orang-orang telah menganggapku gila atau apalah’ hanya karena aku selalu mengasingkan diri dari mereka.”  Keluhnya merasa sebal dengan kenyataan yang harus ia terima.
            “Dan tak jarang mereke memergoki ku sedang berbicara dengan Tammy kucing kesayanganku. Pastinya meraka tambah curiga denganku kalau aku memang benar-benar gila.” Ocehnya dalam hati, karena kesal dengan orang-orang yang disekitarnya.
             Tak jauh dari keramaian teman-temannya, terdengar suara batuk wanita tua. Wanita itu taka sing adalah nenek Azkia. Ia berjalan menuju kearah neneknya. “Nenek sakit?” Tanya Azkia cemas melihat keadan neneknya  yang sedang kurang sehat itu. “Nenek tidak apa-apa nak,nenek baik-baik saja. Kamu jangan khawatirkan nenek”. Jawab nenek berusaha menenangkan cucunya. “Nenek, Azkia belikan obat ya,Azkia tidak mau nenek sakit. Nenek tunggu Azkia disini ya, Azkia akan segera kembali.” Azkia yang segera meninggalkan nenek untuk menuju apotik membeli obat.
            Ia berjalan setengah sambil berlari dikesunyian malam jalan raya itu. Sambil berjalan menuju apotik. Dalam perjalanan pulang. Azkia membuka tas dan mengambil kertas terakhir untuk dibuat bangau kertas.
            Azkia hanya terfokus pada bangau kertasnya. Ia tidak memperhatikan sekelilingnya. Keseriusannya membuat ia tak sadar bahwa tepat di depannya ada mobil yang melintas kencang. Dengan keadaan yang sudah tidak dapat dihindari mobil itu menabrak Azkia yang sedang lengah.
            Kecelakaan hebat itu pun terjadi.  Tubuh terpental jauh menghantam bangunan di pinggir jalan. Darah segar bercucuran keluar dri kening dan kepala bagian belakang Azkia. Jalan raya dipenuhi dengan darah segar Azkia dan dikelilingi oleh kierumunan orang yang datang untuk melihat dan menolongnya. Bangau kertas yang semula berwarna putih, kini berubah menjadi merah segar. Ratusan bangau kertas yang bewarna putih berhamburan keluar dari tasnya dan berubah warna menjadi merah, akibat darah Azkia yang menyelimutinya.
            Pengendara mobil yang tidak bertanggungjawab mulai meninggalkan Azkia di tengah kerumunan orang. Orang- orang yang berada di pinggir jalan hanya terdiam membisu dan tak dapat bertindak. Tetapi, sebelum Azkia benar-benar tak sadarkan diri, ia sempat mendengar suara mestiterius itu lagi. Suara itu membisikan kepadanya, “Percayalah, ia akan dating Azkia, datang untuk menghampiri dan menjemputnya”. Tak lama dari itu, ada salah-satu wanita paruh baya datang menghampiri tempat kecelakaan itu. Dan dilihatnya sedang tergeletak lemah tak berdaya tubuh seorang gadis yang tak lain adalah anaknya perempuannya.
            Sudah tiga hari Azkiatidak sadarkan diri. Ia terbaring lemas diruangan yang serba putih itu. Sedang duduk dua orang wanita tepat di samping Azkia, yang menemaninya selama tidak sadarkan diri yaitu, ibu dan neneknya. Nampak pucat wajah wanita tua itu. Karena rasa khawatir dan rasa cemas atas keadaan gadis kecil yang disayanginya.
            Pagi berganti siang, siangpun berganti malam. Gadis itu masih belum sadarkan diri dari tidur lamaya. Mega pun mulai menutupi terik sang surya di ufuk barat. Mata mungil nan indah itu mulai terbuka secara perlahan. Jemari Azkia mulai bergerak walau masih lemah.
            Ketika Azkia membuka kedua matanya, dilihatnya soksok wanita paruh baya nan cantik yang tak asing baginya, sedang berdiri dihadapannya sembari menggenggam tangannya. Ternyata wanita yang dilihatnya itu tidak lain adalah ibunya.
            “Anakku…bagaimana keadaanmu? Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik, yang dapat menjaga anaknya dan membimbingnya. Selama ini ibu tidak bisa menemanimu nak, maafkan ibumu ini”. Dengan bercucuran air mata yang keluar dari kelopak matanya sembari menggenggam tangan anaknya.

            Dengan mata yang masih sayu , Azkia langsung bangkit dan memeluk tubuh ibunya sambil berkata,”ibu… Azkia merindukan ibu, jangan inggalkan Azkia bu, aku mohon ibu tetap disini bersamaku tetap di sampingku dan menemaniku”. Ujar Azkia dengan berlinang air mata yang bertahun-tahun tak pernah bisa terbendung. 
Share:

A Wish

Jika hal ini terus berlanjut tanpa ada tindakan yang tegas dari sekolah, dia akan terus melakukan hal-hal yang lebih parah lagi!” kata seseorang lelaki berumur kira-kira 50 tahun tersebut di ruang guru saat rapat.
          “Sebaiknya kita beri surat panggilan kepada orangtuanya. Agar mereka tahu bagaimana sekipanya selama di sekolah.” Seorang wanita berambut pendek yang lebih muda menyahut.
          “Sama saja, tidak ada gunanya. Orangtuanya tidak pernah ada waktu untuknya. Diberi surat panggilanpun paling-paling langsung dibuangnya ke tempat sampah, tanpa menyerahkan ke orangtuanya.” Celetuk wanita berkaca mata diamping pintu.
          “Atau langsung kita keluarkan saja dia dari sekolah?” sahut seorang lelaki yang berada di sepan wanita tersebut.
          “Tunggu dulu,pak.” Seorang wanita berjilbab yang berada tepat dibelakang lelaki tersebut,turut bicara. Namun dengan nada lebih rendah. “Sebenarnya itu bukanlah masalah serius.”
          “Apa maksud ibu?” lelaki pertama yang ternyata kepala sekolah menyanggah dengan nada tinggi.
          “Anak itu telah ke sekian kalinya membuat hancur hati ibu. Apa ibu tidak terhina atas kelakuannya?”
          “Tidak, pak.” Dengan nada rendah dan datar,wanita tersebut menjawab.
`        Bel berbunyi tiga kali tanda masuk kelas. Anak-anak langsung masuk ke dalam kelas masing-masing untuk menerima pelajaran. Beberapa anak laki-laki masih terlihat di depan kelas sambil tertawa-tawa dan menjahili teman yang lain. Bu Narendra yang mengajar Matematika di kelas XI-O3 terlihat menenteng tas di tangan kanan, dansetumpuk buku-buku tebal di tangan kirinya. Anak-anak yang berada di luar lantas masuk kelas. Susasana hening.
          Bu Narendra langsung menyebar pengelihatannya ke seluruh sudut ruangan untuk mencari murid kesayangannya. Namun dibenci seluruh guru. Dan,ketemu. Di sudut ruangan ia bersandar pada tembok di sebelah kanannya. Ia tempak membuka-buka buku paketnya,mencari materi hari itu. Bu Narendra pun tersenyum kecil.
          “Kita lanjutkan meteri yang kemarin. Sebagai pembuka,saya akan memberikan kalian soal untuk mengingatkannya.” Kemudia Bu Narendra berbalik badan, menuliskan soal di papan putih dengan spidol. Lima soal pun tertulis disana. Triogonometri. “ Saya beri waktu lima menit untuk mengerjakannya. Setelah itu kita bahas bersama. Lalu kita akan belajar materi selanjutnya. Silahkan dikerjakan.”
          Biasanya kelas akan menjadi ramai karena murid-murid bertanya cara mengerjakan. Namun kali ini susasana hening. Mungkin murid-murid sudah paham dengan materi yang disampaikan Bu Narendra waktu lalu. Lima menitr berlalu…
          Lelaki tersebut tidak mampu menatap Bu Narendra. Ia langsung mendekati anak yang bernama Iman itu.
          “Saya tidak inging menunjuk siswa yang lain untuk nomer pertama. Saya hanya ingin kamu yang mengerjakan. Berdirilah. Dan kerjakan soal ini. Ini pasti terlalu mudah untuk kamu.” Masih dengan nada yang sopan,seperti berbicara dengan orang yang lebih tua. Iman lantas berdiri. Se;uas senyum gembira dari bibir manis Bu Narendra tercipta,. Namun segera memudar saat Iman langsung keluar kelas. Tanpa mengerjakan soal dipapan. Beberapa anak terkejut atas sikap Iman.
          “Baru masuk dua bulan sudah buat masalah saja anak itu.” Celetuk siswa berambut jabrik setelah Iman hilang di balik pintu dengan nada kesal.
          “Masik untung sekoalah ini mau menampungnya. Coba kalau tidak. Mungkin di sekarang sudah sekolah di SLB!” sahut seorang lagi yang berada di dereatan bangku depan. Sesaat kelas menjadi ramai membicarakan Iman. Meski sakit hati Bu Narendra , namun beliaupun menyuruh supaya siswa tidak rebut.
          Hingga pelajaran usai,Iman tak kunjung kembali ke kelas. Dengan berat hati Bu Narendra harus meninggalkan kelas XI-O3 tersebut. Tak hanya sekali itu Bu Narendra diperlakukan Iman selakyaknya mush berat. Bahkan , pada awal masuk sekolah ini,karena ia adalah murid baru, Iman pernah menyebut Bu Narendra tidak becus mengajar. Yang lebih parah,ia pernah merokok di jam pelajaran BuNarendra di dalam kelas!.
          Bukan hanya kepada Bu Narendra. Namun juga kepada guru yang lain. Terutama guru perempuan yang hanya berjumlah lima di sekolah kejuruan tersebut. Namun Bu Narendra diam saja. Tak pernah mengeluhkan sukap Iman yang seperti ini terhadapnya. Ia berharap akan menemukan sisi baik dari siswa barunya itu. Mesuki bagai mencari sehelai bulu kucing didalam lautan kapas.
          Satu semester berlalu. Nilai Iman cukup memuaskan. Tak ada satupun mata pelajaran yang nilainya kurang dari tujuh. Banyak siswa dan guru yang yang tak percaya akan nilai yang didapat Iman. Merke mengira Iman pasti menyontek. Ia tak mungkin bertanya , karena tak satupun anak dikelasnya yang mau berbicara dengan anak sedingin Iman. Namut terdapat angka Sembilan koma lima di mata pelajaran Matematika. Ini cukup membuktikan bahwa di bidang ini ia tak menyontek. Atau mungkin Iman mencari jawaban dari internet?. Itu satu-satunya jawaban dari semua orang.
          Sekuat tenaga Bu Narendra mencari cara untuk membuktikan bahwa Iman tak seburuk yang mereka pikirkan selama ini. Akhirnya Bu Narendra memutuskan untuk mengunjungi rumah Iman, yang tak satu siswa dan guru pun mengetahui secara pasti letak rumahnya.
          Ternyata kawasan elit itu ia tinggal. Ia mengunjungi di waktu tidak ada jam mengajar. Bu Narendra hampir tak percaya. Rumahnya besar, indah. Terdapat bunga-bunga dan rumput hijau menyambut siapapun yang memasuki area rumahnya. Ada pula garasi yang terbuka. Nampakny seserang baru saja meletakan kendaraannya di sana. Ada sebuah mobil Mercedes silver, sebuah motor Kawasaki biru,dan sebuah motor matic. Padahal tiap harinya Iman hanya naik bus! Dan ia tak pernah memamerkan kekayaannya seperti jaket,septum baru,jam tangan, dan peralatan lainnya. Ia berpenampilan layaknya anak biasa.
          Seorang wanita menyambutnya dengan agak maulu dan mempersilahkan duduk. Nampaknya ia adalah pembantu. Interior rumahnyapun bak kerajaan. Seorang nenek-nenek dating mengahampiri Bu Narendra diikuti pembantu yang membawakan dua gelas air minum. Setelah mengenalkan diri dan memberitahu maksud kedatangannya, Bu Narendra langsung kepada pointnya.
          Ternyata benar apa yang telah diduga Bu Narendra. Kehidupan Iman tak semulus anak yang lain. Karena kedua orangtuannya businessman, ia kurang mendapat perhatian. Terutama ibunya yang selalu ke luar kota dan sejak kecil ia jarang ketemu. Itu kah sebab mengapa ia berbuat tidak baik pada guru wanita.
          “Itulah alasan mengapa nak Iman tidak mau sekolah di SMU yang kembanyakan ada perempuan. Jadi nak Iman masuk ke STM yang kebanykan laki-laki.” Nenek Rina menjelaskan.
          “Aku pulang… .” suara yang taka sing di telinga Bu Narendra an Nenek Rina. Iman. Ia terpanjat ketika mendapati Bu Narendra di dalam rumahnya, tepat di depanya. Bu Narendra lantas memohon diri untuk pulang. Nenek Rina mencegah Bu Narendra. Namun alas an pekerjaan belum selesai-lah yang membuat Nenek Rina menyerah.
          “Bu Narendra punya kandidat untuk mengikuti olympiade minggu depan?” Tanya kepala sekolah suatu hari.
          “Sebernarnya suda,pak… . Namun saya yakin pasti bayka yang tidak setuju.”
          “Benarkah? Siapa,bu?”
“Yuki Imansyah.” Pak Ferdi,kepala sekolah,terkejut mendengarnya. Namun beliau tidak berkata apa-apa. Memang kemampuan Iman di bidang Matematika lebih unggul dibandingkan siswa lain. Namu,mestikah Iman?? Pertanyaan itu kemudia membuat seluruh anggota sekolah tersebut terpaksa mengakui kemampuan Iman.
          Ajang olympiade telah di depan mata. Saat hendak berangkat,sosok Iman tak kunjung darang. Sudah lama Bu Narendra menunggu. Setelah lama waktu terbuang,akhirnya Bu Narendra memutuskan untuk membatalkan keikutsertaan sekolah lewat ponsel.
          “Tunggu dulu,Bu. Bu Narendra dari SMK 17 Negeri Timur?” kata seorang petugads yang mencatat kehadiran peserta.
          “Iya. Benar , pak. Ada apa?”
          “Anak didik ibu yang bernama… . Ah,ini dia. Yuki Imansyah. Dia sudah menunggu ibu disini sejak  lima belas menit lalu.” Kata petugas itu lagi yang mengagetkan Bu Narendra. Bu Narendra langsung melucur ke tempat olympiade yang membutuhkan wakyu dua puluh menit dari sekolah menggunakan mobil.
          Kegiatan berlangsung sengit namun sportif. Iman yang sikapnya dingin,begitu di depan lawan-lawannya seoalah-olah langsung menjadi dirinya yang lain. Begitu semangat dan tidak emosi. Acara berakhir. Pengumuman pemenang akan diberitahukan dua hari kemudian.
          “Kamu dating ke sini dengan siapa?” Tanya Bu Narendara begitu Iman ada di didepannya. Lama Iman berpikir sambil memandang Bu Narendra dengan pandangan bingung.
          “Motor.” Jawabnya singkat. Dan,, iya. Motor Ninja yang dilihat Bu Narendra di rumahnya terlihat lagi di parkir gedung itu. Bu Narendra mengajak Iman untuk makan-makan. Namun ia menolak Iman berkata bahwa akan menjemput seseorang di bandara yang tak jauh dari sana. Itulah alasannya membawa motor. Dan,Iman terlihat gagah mengendarai motor itu.
          Pengumuman hasil olympiade membuat seisi sekolah dengan alasan apapun, harus mempercayainya. Iman keluar sebagai juara pertama. Seoalah-oalah atmosfir sekolah berubah seratus delapan puluh derajad. Hampir seluruh siswa dan guru memberi ucapan selamat dan mulai mau berbicara dengannya.
          Sejak olympiade itulah, Iman sedikit demi sedikit mulai membuka diri. Tak bersifat dingin,tidak kasar,murah senyum,banyak teman, dan mulai disukai guru. Itu semua berkat Bu Narendra. Namun dilain sisi, ia masih merasa kesepian. Suatu kasih saying yang belum pernah ia rasakan sejak ia dilahirkan. Sosok IBU… .

Karya : Siswa SMA Negeri 1 Tunjungan
Share:

Minggu, 04 September 2016

Mutiara Keikhlasan Albi Oleh Bella XII IPA 2

Riuh tepuk tangan menggema memenuhi seluruh isi ruangan tempat lomba Qiro'ah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Seorang anak berusia sebelas tahun dengan baju koko putih panjang, sarung hitam berdiri dengan menarik kedua ujung bibirnya dihadapan puluhan penonton. Tubuhnya sedikit bergetar. Telapak tangannya basah oleh keringat. Matanya mengisyaratkan rasa bahagia yang luar biasa. Senyumnya semakin merekah tatkala sang Bunda berdiri dibagian penonton dengan tangan memegang Al-Quran di dada. Sekilas ia melihat juri yang membawa piala sedang menuju ke arahnya. Piala bertuliskan “Juara 1 Lomba Qiro'ah” itu beralih dari tangan juri ke tangannya. Sepersekian detik setelahnya, kening, hidung, telapak tangan, dan alat gerak bagian bawahnya menyentuh lantai tempat perlombaan itu berlangsung. Ia melakukan sujud syukur dengan memejamkan matanya. Saat melakukan hal tersebut, ia merasakan tetes tetes air mengenai punggungnya. “Bi, bangun!” suara seorang wanita menghentikan mimpi indahnya. “Ayo bangun. Genting kamar kamu bocor.” Tambahnya. “Eh. Iya Bun.” Yang dipanggil segera beranjak dari posisi tengkurapnya dan menuju ke dapur untuk mengambil baskom sebagai tempat penadah air. Lalu ia kembali ke kamar dan menempatkannya diatas tempat tidur yang kemudian menyusul bundanya ke ruang tamu. Tempat berkumpul keluarga mereka saat turun hujan.

Rumah kayu dengan genting yang sudah berlumut dan dinding yang sudah doyong ke kanan. Menjadi tempat paling sempurna untuk mereka berlindung. Keluarga kecil yang selalu bersyukur dengan apa yang mereka punya. Yang tak pernah mengenal kata mengeluh. Yang selalu berusaha dengan tenaga yang mereka punya untuk mendapatkan sesuatu. Keluarga luar biasa. “Bun, tadi Albi mimpi indah.” Anak bernama Albi itu langsung bergabung bersama kedua orang tua dan adiknya, Bina yang berusia 8 tahun. “Tadi Albi ikut lomba Qiroah dan jadi juara satu. lalu Albi sujud syukur, eh punggung Albi basah. Ternyata atap kamar Albi bocor. Haahaha.” Tawa keluarga itu pecah setelah mendengar mimpinya. “Ya semoga mimpi kamu jadi nyata, Bi. Bunda doakan.” Jawab Bundanya, Aina. Dua hari berlalu, mimpi itu masih menetap di pikirannya. Hampir setiap ada waktu luang, ia mencoba meneruskan mimpi yang menurutnya indah itu. “Bun, ajari Albi Qiroah ya,?” Pintanya pada bunda saat membantu memasak untuk menu makan malam. “Iya, tapi kamu setiap sore harus belajar baca Juz-Amma dulu di Ustadz Imam. Nanti malam harinya bunda yang ngajar Qiroah. Gimana? Setuju?” Tawar Aina yang mendapat anggukan ragu. “Kenapa? Keberatan?” tambahnya. “Terus jam bermain Albi gimana? Kan—“ “Kamu mau mimpi kamu jadi kenyataan kan? Mau membahagiakan Bunda, Ayah, dengan Bina kan?” belum sempat ia menjelaskan, Ibunya sudah terlebih dahulu memotong pembicaraan. Akhirnya, perdebatan kecil itu menghasilkan anggukan mantap. “Hari minggu hari bebas kamu. Mau ngaji boleh, bermain juga boleh. Ingat! Hanya hari minggu sore.” Bundanya memberi keringanan. “Baik. Terimakasih bunda.” Hari pertama, Albi berangkat ke rumah Ustadz Imam dengan semangat yang luar biasa. Tekadnya besar mengenai mimpi itu sampai ia merelakan untuk menggunakan waktu bermainnya untuk belajar. Mungkin ia hanya akan bermain saat malam hari saja. Bermain di alam mimpi. Berjalan satu bulan, hari bebasnya digunakan pula untuk mengaji. Bundanya sangat senang. Anak pertamanya, memasuki masa remaja dengan perilaku mulia.

Tidak ada satu tahun, ia telah berhasil mengkhatamkan Juz-Amma. Sebagai hadiah, Ustadz Imam mengajaknya makan siang di kedai Ice Cream terkenal. Baru pertama rasanya ia menikmati ice cream
seperti ini. Ustadz Imam kemudian mengajaknya pergi ke RSUD untuk menjenguk saudaranya. Albi berjalan dikoridor rumah sakit sambil melihat kamar-kamar yang ada. Pandangannya terhenti pada kamar penderita Kanker. Terlihat dari pintu yang terbuka, seorang anak perempuan sedang membaca ayat Al-Quran dengan suara khas anakanak. Ia berhenti sejenak sampai Ustadz Imam menarik tangannya untuk cepat. Ia kembali berjalan. Dua minggu setelah itu, Ustadz Imam memberitahunya bahwa satu minggu lagi aka nada lomba Qiro'ah. Albi sangat antusias. Mimpinya sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Ia akan membanggakan bunda, ayah, dan adiknya. Ia akan membahagiakan keluarganya. Setiap selesai sholat maghrib menjadi waktu khusus untuknya berlatih pada sang bunda. Hal itu berlangsung sampai satu hari sebelum lomba berlangsung. Koko putih panjang, sarung cokelat dan peci hitam serta Al-Qur'an bersampul kuning menjadi pelengkapnya berangkat ke tempat lomba. Setelah namanya dipanggil, ia meraih tangan bundanya dan meminta doa restu agar ia dapat menampilkan yang terbaik Dihadapan para juri ia menguras keringat kerja kerasnya selama ini. Dan tepuk tangan meriah dari para penonton menjadi patokannya bahwa ia berhasil. Giliran selanjutnya adalah peserta di samping kanannya. Saat peserta itu berdiri dan maju ke panggung, secarik kertas jatuh dari pangkuannya. Karena rasa penasaran, ia mengambil dan membacanya. Ia membaca diiringi suara pemiliknya. Bibirnya bergetar. Tidak seperti saat ia menerima piala di mimpi saat itu, melainkan karena membaca tulisan di kertas itu yang berisi, “YaAllah. Jika ini waktu pertama dan terakhir Tara untuk berlomba, izinkan Tara menjadi juara. Terimakasih untuk semua nikmat
sakit ini. Tara selalu bersyukur untuk semuanya. Tara sayang Allah.” Setelah membacanya, ia ingat bahwa gadis cilik bernama Tara ini adalah anak kecil yang ia lihat di kamar penderita kanker saat ia diajak Ustadz Imam menjenguk saudaranya di RSUD. Hatinya semakin bergetar. Disela waktu perundingan juri, ia berusaha menyampaikan keinginan gadis itu. Dan permintaannya disetujui.
“ T e t a p i , konsekuensinya kamu harus gugur ya?” “Baiklah. Tidak a p a - a p a . M a s i h a d a kesempatan lain.” Batinnya sambil mengangguk kearah juri. P e n g u m u m a n juara pun dimulai. Albi melirik gadis disampingnya. Wajahnya pucat. Ia semakin merasa kasihan. Setelah dua kali dibacakan nama juara dari yang terendah, nama gadis itu 'Atara Syafa' dipanggil sebagai juara pertama. Senyum gadis itu mengembang. Ia langsung memeluk wanita disampingnya dan meneteskan air mata.Ia pun berdiri untuk menerima piala dan piagam penghargaan.Ia duduk kembali dan langsung memeluk ibunya untuk yang kedua kalinya. Albi meliriknya, dan gadis itu tersenyum ke arahnya. Saat Albi memalingkan wajahnya dari gadis itu. Seorang wanita berteriak. Gadis bernama Tara yang beberapa detik lalu sedang
tersenyum manis padanya, menghembuskan nafas terakhir dipangkuan ibunya. Albi mendongak berharap agar air matanya tidak jatuh. Namun sia-sia. Air mata itu sudah terlanjur jatuh. Ia segera menyekanya. Albi dan bundanya akhirnya pulang tanpa membawa apa-apa.
Di depan pintu tempat lomba, ibu Tara menahan langkah mereka. “Tunggu sebentar, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada adik.” Ucapnya menghalangi langkah Albi dan Aina.
“Untuk apa?” jawab Aina. “Tadi saya melihat saat kamu mengambil surat yang jatuh dari pangkuan Tara. Saya juga melihat kamu masuk ke tempat perundingan juri. Saya tahu yang pantas menjadi juara itu kamu, bukan Tara. Tapi kamu memberikan semuanya untuk anak saya di saat-saat terakhirnya. Bagaimana cara saya agar dapat membalas budi baikmu?” ibu Tara berbicara panjang sambil menahan airmata. “Tidak apa-apa bu. Saya kan masih ada lain kesempatan. Turut berduka cita, semoga Tara tenang di Surga. Tara gadis kecil yang pintar.” Jawab Albi mencoba menaikkan semangat wanita paruh baya itu. “Terimakasih ya? Em— Siapa nama kamu?”
“Albi”
“Terimakasih nak Albi. Semoga Allah membalas perbuatan baikmu.”
Walaupun Albi tidak menjadi juara pertama dalam lomba, namun hatinya tetap bahagia. Baru kali ini ia merasa sangat bahagia setelah mengorbankan keinginannya. Ketulusan yang ia beri pada Tara merupakan wujud nyata dari didikan ibundanya yang selalu mengajarkan 'Ketulusan diberi tanpa harus ditanyakan.” Jika ia masih bisa melakukan hal baik, ia akan melakukannya dengan yang terbaik. Karena tidak ada perjuangan yang sia-sia. Orang sukses tidak akan pernah takut untuk mencoba- gagal- dan mengikhlaskan. Keyakinan bahwa Allah selalu memiliki rencana yang lebih indah dibalik setiap peristiwa harus ditanam di lubuk hati agar dapat menjalani hidup penuh keikhlasan.



Share:

INGAT WAKTU YA..

RUMAH BELAJAR

RUMAH BELAJAR
Belajar Dimana Saja

JATENG PINTAR

JATENG PINTAR
portal jawa tengah

Daftar Postingan

Diberdayakan oleh Blogger.

Statistik Penayangan

Recent Posts